BACAAN SURAT YASIN BUKAN UNTUK ORANG MATI
BACAAN SURAT YASIN BUKAN UNTUK ORANG MATI
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
HADITS PERTAMA
مَنْ قَرَأَ يَس فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَاقْرَؤُوْهَا عِنْدَ مَوْتَاكُمْ.
“Barangsiapa membaca surat Yaasiin karena mencari ke-ridhaan Allah
Ta’ala, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu. Oleh
karena itu, bacakan-lah surat itu untuk orang yang akan mati di antara
kalian.”
[HR. Al-Baihaqi dalam kitabnya, Syu’abul Iman]
Keterangan: HADITS INI (ضَعِيْفٌ) LEMAH
Lihat Dha’if Jami’ush Shaghir (no. 5785) dan Misykatul Mashaabih (no. 2178).
HADITS KEDUA
مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمُعَةٍ فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ
عِنْدَهُ يَس غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ آيَةٍ أَوْ حَرْفٍ.
“Barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap Jum’at dan
membacakan surat Yaasiin (di atasnya), maka ia akan diampuni (dosa)nya
sebanyak ayat atau huruf yang dibacanya.”
Keterangan: HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy (I/286), Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru
Ashbahan (II/344-345) dan ‘Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Sunannya (II/91)
dari jalan Abu Mas’ud Yazid bin Khalid. Telah menceritakan kepada kami
Yahya bin Sulaim ath-Thaifi, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari
‘Aisyah, dari Abu Bakar secara marfu’.
Lihat Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 50).
Dalam hadits ini ada ‘Amr bin Ziyad Abul Hasan ats-Tsaubani. Kata Ibnu
‘Adiy: “Ia sering mencuri hadits dan menyampaikan hadits-hadits yang
BATHIL.”
Setelah membawakan hadits ini, Ibnu ‘Adiy berkata:
“Sanad hadits ini BATHIL, dan ‘Amr bin Ziyad dituduh oleh para ulama
memalsukan hadits.”
Kata Imam Daruquthni: “Ia sering memalsukan hadits.”
Periksa: Mizaanul I’tidal (III/260-261 no. 6371), Lisanul Mizan (IV/364-365).
Penjelasan Hadits-Hadits di Atas
Hadits-hadits di atas sering dijadikan pegangan pokok tentang
dianjurkannya membaca surat Yaasiin ketika ada orang yang sedang naza’
(sakaratul maut) dan ketika ber-ziarah ke pemakaman kaum Muslimin
terutama ketika menziarahi kedua orangtua. Bahkan sebagian besar kaum
Muslimin menganggap hal itu ‘Sunnah’? Maka sekali lagi saya jelaskan
bahwa semua hadits-hadits yang me-nganjurkan itu LEMAH, bahkan ada yang
PALSU, se-bagaimana yang sudah saya terangkan di atas dan hadits-hadits
lemah tidak bisa dijadikan hujjah, karena itu, orang yang melakukan
demikian adalah berarti dia telah ber-buat BID’AH. Dan telah menyalahi
Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sah yang
menerang-kan apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang sedang dalam
keadaan naza’ dan ketika berziarah ke kubur.
Syaikh Muhammad
Nashiruddin al-Albany berkata: “Membacakan surat Yaasiin ketika ada
orang yang sedang dalam keadaan naza’ dan membaca al-Qur-an (membaca
surat Yaasiin atau surat-surat lainnya) ketika berziarah ke kubur adalah
BID’AH DAN TIDAK ADA ASALNYA SAMA SEKALI DARI SUNNAH NABI SHALLALLAHU
‘ALAIHI WA SALLAM YANG SAH.
Lihat Ahkamul Janaa-iz wa Bida’uha (hal. 20, 241, 307 & 325), cet. Maktabah al-Ma’arif.)
Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam Ketika Ada Orang Yang Sedang Dalam Keadaan Naza’
Pertama: Di-talqin-kan (diajarkan) dengan ‘Laa Ilaaha Illallah’ agar
ia (orang yang akan mati) mengucapkan “لاَإِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ (Laa Ilaaha Illallah).”
Dalilnya:
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ.
"Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: “Telah bersabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ajarkanlah ‘Laa Ilaaha
Illallah’ kepada orang yang hampir mati di an-tara kalian.”
Hadits SHAHIH, riwayat Muslim (no. 916), Abu Dawud (no. 3117), an-Nasa-i
(IV/5), at-Tirmidzi (no. 976), Ibnu Majah (no. 1445), al-Baihaqi
(III/383) dan Ahmad (III/3).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menganjurkan agar kalimat Tauhid ini yang terakhir diucapkan, supaya
dengan demikian dapat masuk Surga.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barangsiapa yang akhir perkataannya ‘Laa Ilaaha Illallah,’ maka ia akan masuk Surga.”
Hadits riwayat Ahmad (V/233, 247), Abu Dawud (no. 3116) dan al-Hakim (I/351), dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.
Kedua: Hendaklah mendo’akan kebaikan untuknya dan kepa-
da mereka yang hadir pada saat itu. Hendaknya mereka berkata yang baik.
Dalilnya:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا حَضَرْتُمْ الْمَرِيْضَ أَوِ الْمَيِّتَ
فَقُوْلُوْا: خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَّمِّنُوْنَ عَلَى مَا
تَقُوْلُوْنَ.
"Dari Ummu Salamah, ia berkata: “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Apabila kalian menjenguk
orang sakit atau berada di sisi orang yang hampir mati, maka katakanlah
yang baik! Karena sesungguhnya para malaikat mengaminkan (do’a) yang
kalian ucapkan.’”
Hadits SHAHIH riwayat Muslim (no. 919) dan al-Baihaqi (III/384) dan selain keduanya.)
Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Ketika Berziarah Ke Pemakaman Kaum Muslimin
Pertama: Mengucapkan salam kepada mereka.
Dalilnya ialah:
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah apakah yang harus aku
ucapkan kepada mereka (kaum Muslimin, bila aku menziarahi mereka)?”
Beliau men-jawab: “Katakanlah:
السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ
الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ
الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ
اللَّهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ.
‘Semoga dicurahkan kesejahteraan
atas kalian wahai ahli kubur dari kaum Mukminin dan Muslimin. Dan
mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada orang yang telah mendahului
kami dan kepada orang yang masih hidup dari antara kami dan insya Allah
kami akan menyu-sul kalian.’”
Hadits SHAHIH riwayat Ahmad (VI/221), Muslim (no. 974) dan an-Nasa-i (IV/93), dan lafazh ini milik Muslim.
Buraidah berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan kepada mereka (para Shahabat) apabila mereka memasuki
pemakaman (kaum Muslimin) hendaknya mengucapkan:
السَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا
وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.
‘Mudah-mudahan dicurahkan kesejahteraan
atas kalian, wahai ahli kubur dari kaum Mukminin dan Muslimin. Dan insya
Allah kami akan menyusul kalian. Kami mohon kepada Allah agar
mengampuni kami dan kalian.’”
Hadits SHAHIH riwayat Muslim
(no.975), an-Nasa-i (IV/94), Ibnu Majah (no. 1547), Ahmad (V/353, 359
& 360). Lafazh hadits ini adalah lafazh Ibnu Majah.
Kedua: Mendo’akan serta memohonkan ampunan bagi mereka.
Dalilnya:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
يَخْرُجُ إِلَى الْبَقِيْعِ فَيَدْعُوْ لَهُمْ فَسَأَلَتْهُ عَائِشَةُ
عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: إِنِّيْ أُمِرْتُ أَنْ أَدْعُوَ لَهُمْ.
"‘Aisyah berkata: “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
keluar ke Baqi’ (tempat pemakaman kaum Muslimin), lalu beliau mendo’akan
mereka.” Kemudian ‘Aisyah bertanya tentang hal itu, beliau menjawab:
“Se-sungguhnya aku diperintah untuk mendo’akan mereka.”
Hadits SHAHIH riwayat Ahmad (VI/252).
Baca Al-Qur-an Di Pemakaman Menyalahi Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Hadits-hadits yang saya sebutkan di atas tentang Adab Ziarah,
menunjukkan bahwa baca al-Qur-an di pemakaman tidak disyari’atkan oleh
Islam. Karena seandainya disya-ri’atkan, niscaya sudah dilakukan oleh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau pasti sudah
mengajarkannya kepada para Shahabatnya.
‘Aisyah ketika bertanya
kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang harus diucapkan
(dibaca) ketika ziarah kubur? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya
mengajar-kan salam dan do’a. Beliau tidak mengajarkan baca al-Fatihah,
baca Yaasiin, baca surat al-Ikhlash dan lainnya. Seandainya baca
al-Qur-an disyari’atkan, pasti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak menyembunyikannya.
Menurut ilmu ushul fiqih:
تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزُ.
“Menunda keterangan pada waktu keterangan itu dibu-tuhkan tidak boleh.”
Kita yakin bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin
menyembunyikan ilmu dan tidak pernah pula beliau mengajarkan baca
al-Qur-an di pemakaman. Lagi pula tidak ada satu hadits pun yang sah
tentang ma-salah itu.
Membaca al-Qur-an di pemakaman menyalahi
Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita membaca al-Qur-an di rumah:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ
الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ
الْبَقَرَةِ .
رواه مسلم رقم : (780) وأحمد والتّرميذي وصححه
"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian
jadikan rumah kalian seperti kuburan, karena se-sungguhnya setan akan
lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah.”
Hadits riwayat Muslim (no. 780), Ahmad (II/284, 337, 387, 388) dan at-Tirmidzi (no. 2877) serta ia menshahih-kannya.
Hadits ini jelas sekali menerangkan bahwa pemakaman menurut syari’at
Islam bukanlah tempat untuk membaca al-Qur-an, melainkan tempatnya di
rumah, dan melarang keras menjadikan rumah seperti kuburan, kita
dianjurkan membaca al-Qur-an dan shalat-shalat sunnat di rumah.
Jumhur ulama Salaf seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam-imam
yang lainnya melarang membaca al-Qur-an di pemakaman, dan inilah nukilan
pendapat mereka:
Pendapat Imam Ahmad, Imam Abu Dawud berkata
dalam kitab Masaa-il Imam Ahmad hal. 158: “Aku mende-ngar Imam Ahmad
ketika beliau ditanya tentang baca al-Qur-an di pemakaman? Beliau
menjawab: “Tidak boleh.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Dari asy-Syafi’i sendiri tidak terdapat perkataan tentang masalah ini,
yang demikian ini menunjukkan bahwa (baca al-Qur-an di pemakaman)
menurut beliau adalah BID’AH. Imam Malik berkata: ‘Tidak aku dapati
seorang pun dari Sha-habat dan Tabi’in yang melakukan hal itu!’”
Lihat Iqtidhaa’ Shirathal Mustaqim (II/264), Ahkaamul Janaa-iz (hal. 241-242).
Pahala Bacaan Al-Qur-an Tidak Akan Sampai Kepada Si Mayyit
Al-Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat:
“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh (pahala) selain apa yang diusahakannya.” [QS. An-Najm: 53]
Beliau rahimahullah berkata:
أَيْ: كَمَا لاَ يُحْمَلُ عَلَيْهِ وِزْرُ غَيْرِهِ، كَذَلِكَ لاَ
يَحْصُلُ مِنَ اْلأَجْرِ إِلاَّ مَاكَسَبَ هُوَ لِنَفْسِهِ. وَمِنْ هَذِهِ
اْلآيَةِ الكَرِيْمَةِ اسْتَنْبَطَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَمَنِ
اتَّبَعَهُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لاَ يَصِلُ إِهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلَى
الْمَوْتَى، ِلأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَكَسْبِهِمْ وَلِهَذَا لَمْ
يَنْدُبْ إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أُمَّتَهُ، وَلاَ حَثَّهُمْ عَلَيْهِ وَلاَ أَرْشَدَهُمْ إِلَيْهِ بِنَصٍّ
وَلاَ إِيْمَاءٍ، وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَلَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ،
وَبَابُ الْقُرَبَاتِ يُقْتَصَرُ فِيْهِ عَلَى النُّصُوْصِ، وَلاَ
يُتَصَرَّفُ فِيْهِ بِأَنْوَاعِ اْلأَقْيِسَةِ وَاْلأَرَاءِ.
“Sebagaimana dosa seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain,
maka demikian pula ganjaran seseo-rang (tidak dapat
dipindahkan/dikirimkan) kepada orang lain, melainkan didapat dari hasil
usahanya sendiri. Dari ayat ini Imam asy-Syafi’i dan orang yang
mengikuti beliau ber-istinbat (mengambil dalil) bahwasanya pahala bacaan
al-Qur-an tidak sampai kepada si mayyit dan tidak dapat dihadiahkan
kepada si mayyit, karena yang demikian bukanlah amal dan usaha mereka.
Tentang (mengirimkan pahala bacaan kepada mayyit) tidak pernah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nyunnahkan ummatnya, tidak
pernah mengajarkan ke-pada mereka dengan satu nash yang sah dan tidak
pula ada seorang Shahabat pun yang melakukan demikian. Seandainya
masalah membaca al-Qur-an di pemakaman dan menghadiahkan pahala
bacaannya baik, semestinya merekalah yang lebih dulu mengerjakan
perbuatan yang baik itu. Tentang bab amal-amal Qurbah (amal ibadah untuk
mendekatkan diri kepada Allah) hanya diboleh-kan berdasarkan nash
(dalil/contoh) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak
boleh memakai qiyas atau pendapat.”
Periksa Tafsir Ibni Katsir (IV/272), cet. Darus Salam dan Ahkaamul Janaa-iz (hal. 220), cet. Maktabah al-Ma’arif.
Apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Imam asy-Syafi’i itu
merupakan pendapat sebagian besar ulama dan juga pendapatnya Imam
Hanafi, sebagaimana dinukil oleh az-Zubaidi dalam Syarah Ihya’
‘Ulumuddin (X/369).
Lihat Ahkaamul Janaa-iz (hal. 220-221), cet. Maktabah al-Ma’arif th. 1412 H.
Allah berfirman tentang al-Qur-an:
“Supaya ia (al-Qur-an) memberi peringatan kepada orang yang HIDUP…” [Yaasiin: 70]
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur-an ataukah hati mereka terkunci.” [Muhammad: 24]
Yang wajib juga diperhatikan oleh seorang Muslim adalah, tidak boleh
beribadah di sisi kubur dengan me-lakukan shalat, berdo’a, menyembelih
binatang, ber-nadzar atau membaca al-Qur-an dan ibadah lainnya. Tidak
ada satupun keterangan yang sah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan para Shahabatnya bahwa mereka melakukan ibadah di sisi kubur.
Bahkan, ancaman yang keraslah bagi orang yang beribadah di sisi kubur
orang yang shalih, apakah dia wali atau Nabi, terlebih lagi dia bukan
seorang yang shalih.[1]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengancam keras terhadap orang yang menjadikan kubur sebagai tempat
ibadah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.
“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani (karena)
mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” [2]
Tidak ada satu pun kuburan di muka bumi ini yang mengandung keramat dan
barakah, sehingga orang yang sengaja menuju kesana untuk mencari
keramat dan ba-rakah, mereka telah jatuh dalam perbuatan bid’ah dan
syirik. Dalam Islam, tidak dibenarkan sengaja mengada-kan safar
(perjalanan) ziarah (dengan tujuan ibadah) ke kubur-kubur tertentu,
seperti, kuburan wali, kyai, habib dan lainnya dengan niat mencari
keramat dan barakah dan mengadakan ibadah di sana. Hal ini dilarang dan
tidak dibenarkan dalam Islam, karena perbuatan ini adalah bid’ah dan
sarana yang menjurus kepada kesyirikan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِيْ هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى.
“Tidak boleh mengadakan safar (perjalanan dengan tuju-an beribadah)
kecuali ketiga masjid, yaitu Masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil
Haram dan Masjidil Aqsha.”[3]
Adapun adab ziarah kubur, kaum
Muslimin dianjur-kan ziarah ke pemakaman kaum Muslimin dengan
me-ngucapkan salam dan mendo’akan agar dosa-dosa mereka diampuni dan
diberikan rahmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.[4]
Wallaahu a’lam bish shawab.
MARAJI’
1.Tafsir Ibni Katsir, cet. Daarus Salam, th. 1413 H.
2. Shahih al-Bukhary.
3. Shahih Muslim.
4. Sunan Abi Dawud.
5. Sunan an-Nasaa-i.
6. Sunan Ibni Majah.
7. Musnad Imam Ahmad.
8. Sunanul Kubra’, oleh al-Baihaqy.
9. Al-Mustadrak, oleh Imam al-Hakim.
10. Syu’abul Iman, oleh Imam al-Baihaqy.
11. Dha’if Jami’ush Shaghir, oleh Imam Muhammad Na-shiruddin al-Albany.
12. Misykatul Mashabih, tahqiq: Imam Muhammad Na-shiruddin al-Albany.
13. Al-Kamil fii Dhu’afaa-ir Rijal, oleh Imam Ibnu ‘Ady.
14. Mizaanul I’tidal, oleh Imam adz-Dzahaby, tahqiq: ‘Ali Muhammad al-Bajaawy, cet. Daarul Fikr.
15. Lisanul Mizan, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
16. Ahkamul Janaa-iz wa Bida’uha, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. Maktabah al-Ma’arif.
17. Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,
tahqiq dan ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, tahqiq: Syu’aib
al-Arnauth dan Muham-mad Zuhair asy-Syawaisy, cet. Al-Maktab al-Islamy,
th. 1403 H.
18. Fat-hul Majiid Syarh Kitaabit Tauhiid, oleh Syaikh
‘Ab-durrahman bin Hasan Alu Syaikh, tahqiq: Dr. Walid bin ‘Abdirrahman
bin Muhammad Alu Furayyan.
[Disalin dari kitab Ar-Rasaail
Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah,
Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_______
Footnote
[1]. Fat-hul Majiid Syarh Kitaabit Tauhiid hal. 18: “Sebab kekufuran
anak Adam dan mereka meninggalkan agama mereka adalah karena ghuluww
(berlebihan) kepada orang-orang shalih.” Dan bab 19: “Ancaman keras
kepada orang yang beribadah kepada Allah di sisi kubur orang yang
shalih, bagaimana jika ia menyembahnya??!” Ditulis oleh Syaikh
‘Ab-durrahman bin Hasan Alu Syaikh, wafat th. 1285 H, tahqiq: Dr. Walid
bin ‘Abdurrahman bin Muhammad Alu Furayyan.
[2]. HR. Al-Bukhari (no.
435, 1330, 1390, 3453, 4441), Muslim (no. 531) Ahmad (I/218, VI/21, 34,
80, 255), dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
[3]. HR. Al-Bukhari (no.
1189) dan Muslim (no. 1397 (511)) dari Abu Hu-rairah radhiyallahu ‘anhu
dan diriwayatkan juga oleh al-Bukhari (no. 1197, 1864, 1995) dan Muslim
(no. 827) dari Abu Sa’id al-Khudri ra-dhiyallahu ‘anhu, derajatnya
mutawatir. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (III/226, no. 773).
[4]. Silahkan
merujuk kepada kitab saya Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir
Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah hal. 97-99.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar